Sum-sum Pisang

sumsum-pisang-IMG_8773
Sum-sum pisang

Tradisional. Kata ini mengingatkan saya pada hal-hal yang berbau pasar dan kejadulan. Cara lama yang dibuat oleh leluhur namun tetap terjaga oleh keturunan. Terutama dalam mengolah makanan.

Salah satunya adalah bubur sum-sum. Bubur yang terbuat dari tepung beras ini dulu sering dijajakan oleh penjual berpakaian kebaya dengan cara digendong.

Tak hanya bubur sum-sum, isi bakulnya terisi oleh botol-botol berisi jamu. Seperti beras kencur, kunyit, temuireng dan beberapa jenis jamu sasetan. Penjualan utama mereka adalah jamu.

sumsum pisang2 IMG_8749
Sum-sum pisang

Pada tengah bakul biasanya mereka isi dengan panci kecil berisikan bubur sum-sum. Ini adalah menu sampingan mereka.

Namun seiring berjalannya waktu tukang jamu gendongan ini telah punah, mereka menjajakan jamu tak lagi dengan bakul melainkan menggunakan sepedah atau motor. Botol yang mereka gunakan pun sudah terlihat modern, tidak menggunakan botol beling melainkan botol plastik beraneka warna.

Dan mereka tak lagi menjajakan jamu sambil membawa bubur sum-sum melainkan segerombol kerupuk yang menyangkut di gerebok bersepedah ini.

Bubur sum-sum justru sering saya jumpai di penjual pecel. Dengan menggunakan gerobak besar atau gerobak kecil bersepedah mereka membawa gumpalan sayuran lengkap dengan gorengan, lontong, mie goreng, kerupuk mie dan bubur sum-sum.

Bubur sum-sum yang mereka jajakan masih sama seperti dulu, berwarna putih lengap dengan kuah gulanya. Rasanyanya pun tak berubah tetap menggunakan gurih dan manis.

Tak hanya penjual pecel yang menjajakan bubur halus ini. Bila kita bermalam di rumah sakit (dalam kondisi sakit) sang perawat biasanya akan menawarkan sarapan, salah satu menunya adalah bubur sumsum.

sumsum-pisang3-IMG_8747
Sum-sum pisang

Teksturnya dan rasanya tentu jauh berbeda dengan para penjual di luar sana.

Rasanya saya ingin bubur sum-sum yang berbeda tapi pastinya takkan bisa meminta pada penjual.

Saya mencoba memperkaya rasa bubur sum-sum ini dengan rasa asam. Kelembutan tepung beras akan berpadu dengan rasa gurih, manis dan asam. Ketika ketiganya bercampur menjadi satu sensasi kelembutan terpancar dari tepung beras dan santan yang telah diolah manis dan asam akan memperkaya rasa sang bubur.

Dengan resep sederhana olahan bubur sum-sum ini tetap terasa nikmat mampu mengingatkan kita pada masa kanak-kanak.

Persiapan memasak : 25 menit

Waktu memasak : 30  menit

Total waktu : 60 menit 

Bahan bubur sum-sum

  • 1/3 cup (50 gr) tepung beras
  • 65 ml santan
  • 500 ml air
  • 1 sendok teh garam
  • 1 lembar daun pandan

Bahan olahan pisang

  • 5 buah pisang kepok matang (potong menjadi 2 bagian)
  • 65 ml santan
  • 500 ml air
  • ¼ gula merah (4-5 buah gula merah) yang telah disisir
  • 1 sendok teh garam
  • 1 lembar daun pandan

Cara membuat

  1. Campurkan air, santan, tepung beras dan garam aduk hingga merata panaskan di atas kompur aduk terus agar tepung tak menggumpal dengan api sedang. Aduk terus hingga tepung mulai mengental dan angkat.
  2. Didihkan air bersama gula merah dan daun pandan. Masukkan pisang kemudian santan aduk terus hingga air tiris hingga campuran gula dan santan mengental hingga setengahnya.
  3. sajikan bubur sumsum bersama kuah pisang selagi hangat atau dingin sama nikmatnya. happy cooking

untuk 3 mangkok

Advertisements

One thought on “Sum-sum Pisang

  1. Pingback: Cucur Kayu Manis |

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s