Baby Donat Yang Bantat

Baby donuts in the morning #baby #donuts

A post shared by Ariyanti Sutrisno (@webariys) on

Wuhuuu…pulang kerja mampir belanja setelahnya pulang bawa dua tentengan. Kanan kiri depan belakang full. Full menuh-menuhin angkot. Untung bang  Ucok yang nyopir (supir angkot langganan sejak dulu kala).

Cerita sedikit soal bang Ucok ya. Bang Ucok salah satu pelopor supir angkot 11B . Namanya juga Ucok pastinya bersuku Batak ya. Perawakannya tinggi bandannya juga besar ukuran perutnya melebihi ukuran kepalanya. Gendut. Yes Ucok Gendut. Perawakannya besar tak pernah mengecil.

Meski tarikan angkot sudah tak seramai dulu ia tak pernah pesimis. “Rejiki uda ada yang ngatur” sering kali berujar seperti itu. Yah, biar penumpangnya pada gak manyun. Biasanya bang Ucok suka ngomong sendiri lama-lama penumpang saling bersautan akhirnya berujung pada sebuah obrolan.

Kue. Obrolan kali ini soal kue. Donat dia menyebut donat sebagai makanan favorit sejak kecil. Ahhaa…sinyal-sinyal ide mulai muncul. Donat bisa dijadikan sarapan besok pagi.

Ngobrolin makanan sampai sudah di depan rumah Bang Ucok langsung berhenti dan menerima ongkos.

Sampai rumah mandi dan bebenah termasuk menyiapkan makan malam. Setelahnya barulah saya membuat adonan donat.

Semua bahan utama sudah diaduk. Menurut resep menggunakan air 200cc tapi air dalam prakteknya air saya ganti menjadi susu cair. Daripada dibuang sayang lebih baik saya gunakan. Dan adonan mulai daya bolak-balik, tekan-tekan dan pijat-pijat.

Menurut resep adonan dibiarkan sampai 20 menit. Karena makanan ini niatnya buat sarapan jadi adonan tersebut saya biarkan saya tutup dengan plastik dan serbet semalaman.

Pukul 04.30 saya bangun melihat hasil dan  perkembangan adonan. Dan hasilnya tidak memuaskan, adonan tak berkembang seperti yang saya bayangkan. Tapi adonan tetaplah saya olah menjadi bentuk donat.

Saya pikir jika bentuk seperti biasa dengan ukuran layaknya donat dengan adonan yang kurang memuaskan akan kurang menarik pula. Akhirnya saya buat ukuran donat lebih kecil. Baby donat anak dari ibu donat.

Kekecewaan saya sedikit terobati dengan bentuk donat yang unik dan imut. Langsunglah saya goreng. Dua kali goreng donat matang. Untuk gorengan ketiga saya sudah curiga tak akan matang karena api mulai mengecil. Tertanda gas akan habis.

Blugg…api mati.  Baby donat dalam penggorengan meronta-ronta minta segera dimatangkan. Sayangnya saya tak bisa memenuhi permintaan baby-baby donat yang akan lahir dari penggorengan.

Huuaaaa… Bang Ucokkk…donat saya selain bantat sebagian juga tak matang. Akhirnya saya akhiri perjuangan donat dalam wajan dengan mengangkatnya setelah minyak tak bisa lagi mendidih.

Beberapa baby donat prematur di sisihkan. Agar tak bercampur dengan baby donat yang siap dicamplok.

Baby donat siap dimakan dengan taburan tepung gula.

rasanya sama seperti donat-donat buatan mamak, bantat dan berisi cukup membuat perut terisi. Meski begini baby donat masih bisa menganjal perut di pagi hari.

Biar bantat rasa tetap mekar. Tuungg…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s